Psikologi Agama SISTEM PENGELOLAAN INFORMASI PADA MANUSIA
Perkembangan intelektual dapat dikaji dengan menggunakan pendekatan sistem pengelolaan informasi yang menganalisis perkembangan keterampilan kognitif, seperti perhatian, ingatan, metakognisi, dan kemampuan akademik.
Dalam ayat-ayat Al Qur’an menyebutkan berbagai proses pengelolaan informasi yang penting. Al Qur’an menyatakan pentingnya fungsi perhatian agar orang dapat memahami informasi yang diperolehnya. Dalam surat berikut menyatakan :
“Ini adalah sebuah kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah supaya mereka memperhatikan ayat-ayatNya dan supaya mendapat pelajaran orang-orang yang mempunyai fikiran.(QS. Shad[38]: 29)
Al Qur’an juga telah menggambarkan selektivitas dalam pengelolahan informasi. Kesedian individu atau motivasi akan memengaruhi informasi yang dapat diserap. Individu memiliki selektivitas untuk tidak mengolah untuk tidak mengolah informasiyang tidak sesuai denagn keinginan, baik disadari maupun tidak disadari.
Informasi yang dapat diperoleh pada ingatan kerja memiliki keterbatasan. Dengan demikian informasi yang diperikan harus mengikuti keterbatasan pengelolaan informasi tersebut. Untuk itu kenapa Al Qur’an diberikan secara berangsur-angsur.
Selain itu Al Qur’an juga menggambarkan adanya kesulitan untuk mengambil informasi yang telah disimpan. Al Qur’an juga menyeebutkan kata lupa dalam ayat-ayatnya.
Dan Yusuf berkata kepada orang yang diketahuinya akan selamat diantara mereka berdua: "Terangkanlah keadaanku kepada tuanmu." Maka syaitan menjadikan Dia lupa menerangkan (keadaan Yusuf) kepada tuannya. karena itu tetaplah Dia (Yusuf) dalam penjara beberapa tahun lamanya (QS. Yusuf [12]: 42)
Psikologi juga meneliti bagaimana perbedaan usia mempengaruhi sistem pemrosesan informasi manusia. Keterbatasan penyimpanan jangka pendek (short term store) diuji dengan uji tentang ingatan (memory spatn) dan terlihat meningkat dari usia kanak-kanak sampai usia dewasa. Namun, penelitian juga menunjukan bahwa anak-anak yang tergolong ahli catur dapat mengingat lebih banyak jumlah kotak-kotak catur daripada orang dewasa yang tidak pandai main catur. Ini menunjukan bahwa abak-anak dapat mengembangkan strategi tertentu untuk meningkatkan ingatannya.
Ingatan terhadap pengalaman pribadi atau ingatan autobriografikaljuga merupakan aspek yang penting dari perkembangan kognitif. Ingatan autobiografikal awal merupakan organisiasi skematik dari kejadian dunia nyata yang tersimpan dalam urutan sebab akibat. Ingatan autobiografi akan meningkat pesat pada periode prasekolah. Ketika orang tua memberikan pengaruh yang besar dengan mendiskusikan kejadian yang telah lewat berdasarkan urutan sebab akibat. Selain itu, kemampuan untuk menjadi saksi mata juga akan meningkat. Anak yang lebih kecil lebih mudah dipengaruhi orang lain dan lebih mudah membentuk kesaksian yang salah.
INTELLEGENSI
Kata intelegensi merupakan kata yang cukup sering terdengar untuk menggambarkan kecerdasan seseorang. Namun, pengertian ini terlihat berbeda-beda antara satu orang dengan orang lain. Pieget (1970) mendefinisikan intelegensi sebagai pikiran atau tindakan adaptif. Selain itu, intelegensi juga dapat didefinisikan sebagai kemampuan untuk perfikir abstrak dan menyelesaikan masalah secara efektif.
Edouard Claparede (1873-1940) seorang pakar psikologi pendidikan Prancis dan William Stern (1871-1938), seorang pakar psikologi jerman mendefinisikan intelegensi secara sanagat fungsional dan terbatas yaitu : “Intelegensi adalah penyesuaian diri secara mental terhadao situasi atau kondisi baru.”
Dengan demikian, intelegensi adalah kemampuan untuk mengolah lebih jauh lagi hal-hal yang kita amati. Kemampuan ini terdiri dari dua jenis yaitu, kemampuan umum dan kemampuan khusus.
Intelegensi tidak terlepas dari proses perpikir manusia. Menurut penelitian terdapat tiga cara berpikir, yaitu berpikir serial, berpikir asosiatif, dan berpikir integratif. Berpikir serial merupakan proses berpikir rasional atau logika linier.Berpikir asosiatif murupakan proses berpikir yang menggunakan logika samar, tidak terlalu mekanistik, tetapi lebih merupakan intelegensi yang komplek yang memungkinkan untuk melakukan perbandingan, menemukan asosiasi, menemukan alternatif, dan melakukan evaluasi. Sedangkan berpikir integratif terjadi ketika otak mencari arti, melakukan pengindraan dan memahami segala hal yang dialaminya
Komentar
Posting Komentar