Perkembangan Kognitif pada anak
LATAR BELAKANG MASALAH
Belajar merupakan kewajiban seorang peserta didik yang dapat diperoleh dilingkungan keluarga, sekolah dan juga lingkungan sekitar. Untuk memenuhi kewajiban tersebut, ada yang namanya kemampuan kognitif yakni kemampuan yang berkaitan dengan pengetahuan. Berdasarkan hal tersebut, maka kemampuan kognitif seorang peserta didik sangatlah diperlukan. Perkembangan kognitif yang baik sangat menentukan keberhasilan peserta didik.
Orang tua dan guru memiliki peran yang penting dalam pengembangan kognitif seorang peserta didik.
Melalui makalah ini kami mencoba untuk mengangkat masalah perkembangan kognitif peserta didik agar orang tua dan guru dapat memberikan pelayanan pendidikan atau melaksanakan proses pembelajaran yang sesuai dengan kemampuan kognitif masing-masing anak secara optimal.
RUMUSAN MASALAH
Bagaimanakah dasar awal kognitif pengindraan, persepsi dan belajar?
Bagaimanakah perkembangan kognitif?
Bagaimanakah sistem pengolahan informasi pada manusia?
Apakah yang dimaksud dengan intelligensi?
TUJUAN MASALAH
Untuk mengetahui dasar awal kognitif pengindraan, persepsi dan belajar.
Untuk mengetahui perkembangan kognitif.
Untuk mengetahui sistem pengolahan informasi pada manusia.
Untuk mengetahui apa yang dimaksud dengan intelligensi.
BAB II
PEMBAHASAN
DASAR AWAL KOGNITIF : PENGINDRAAN, PERSEPSI DAN BELAJAR
Memahami pertumbuhan keterampilan perseptual dan cara untuk belajar merupakan hal yang penting. Persepsi dan belajar merupakan proses dasar kognitif yang sering kali dianggap sebagai pusat perkembangan manusia.
PERKEMBANGAN AWAL PENGINDERAAN DAN PERSEPSI
Penginderaan (sensation) merupakan deteksi dari stimulan sensorik, sementara persepsi merupakan interprestasi dari apa yang telah diterima oleh alat indera. Filosof dan para ahli perkembangan, sebelumnya banyak memperdebatkan apakah dasar keterampilan perspektual merupakan bawaan (native position) atau didapatkan (empirict position). Selain itu juga sering diperdebatkan, apakah persepsi merupakan deteksi dari gambaran yang berbeda dari input sensorik (differentitation) atau meupakan pengayaan kognitif dari hasil penginderaan (enrichment). Namun, kebanyakan peneliti pada saat ini lebih banyak yang menggunakan perspektif interaksionis dan mempercayai bahwa proses-proses diatas saling mempengaruhi pada perkembnngan perseptual.
Al-Quran banyak menggambarkan tentang penginderaan dan persepsi. Al-Quran menggambarkan bahwa ketika manusia lahir dalam keadaan tidak mengetahui, namun allah memberiakan alat-alat sensorik untuk mendapatkan pengetahuan.
Dan Allah mengeluarkan kam dari pert ibumu alam keadaan tidak mengetahui sesuatu pun dan dia membeeri kamu pendegaran, pengliahantan dn ati agara kmau bersyukur (QS. An-Nahl[16]: 78)
Kemudian Dia menyempurnakan dan meniupkan kedalam (tubuhnya) ruh-Nya dan Dia menjadikan bagi kamu pedengaran, penglihatan dan hati (tetapi) sedikit sekali kamu bersyukur (Q.S. As-Sajadah[32]: 9)
Katakanlah: “Dialah yang menciptakan dan menjadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan dan hati,” (tetapi) amat sedikit kamu bessyukur (QS. Al-Mulk[67]: 23)
Dengan demikian, menurut islam alat sensorik merupakan anugerah Allah kepada manusia untuk dipergunakan sesuai dengan fungsinya yang positif. Pendengaran dan penglihatan merupakan alat indra yan paling banyak digunakan dalam proses belajar manusia.
Penelitian menujukkan bahwa bayi pada saat kelahirannya telah melakukan penginderaan terhadap lingkungannya. Berbagai metode diciptakan untuk meneliti penginderaan pada bayi, seperti metode preferens (preference method), metode habituasi (habituation method) metode potensial getaran otak (evoked potential) dan pengisapan bayi pada amplitudo tinggi (high amplitudo sucking). Pada metode preferensi, bayi diberikan paling sedikit dua buah stuimulus secara berurutan, dan melihat stimulus mana yang paling dapat dikenali oleh bayi.
Habituasi merupakan proses dimana stimulus yang berulang menjadi familiar sehingga terdapat tanggapan sehubungan dengan stimulus tersebut. Metode potensial geteran otak adalah pencatatan gelombang otak bayi yang timbul karena stimulus tertentu. Pada metode penghisapan aplitudo tinggi, reaksi menghisap pada bayi dilihat ketika bayi dipakaikan sirkuit elektronik yang memungkinkan bayi mengontrol stimulus lingkungan. Keempat metode ini menunjukkan bahwa alat indra bayi telah berfungsi sejak lahir.
Kemampaun alat pendengaran pada bayi telah berkembang menyerupai kemampuan orang dewasa. Namun, bayi memiliki ambang bawah pendengaran yang lebih dari orang dewasa. Suara lunak yang dapat didengar orang dewasa, masih belum dapat didengar oleh bayi. Hal ini dapat disebabkan karena bayi masih memiliki cairan yang masuk ketelinganya sewaktu masih dalam rahim ibu.
Walau demikian, bayi dapat mengetahui perbedaan suara berdasarkan tingkat kekerasan, durasi, arah dan frekuensi. Dengan kemmpuan ini, bayi memiliki perhatian terhadap berbagai suara suara lingkungannya, bahkan dapat membedakan suara ibunya dengan suara orang lain. Bahkan bayi pada usia 2-3 bulan juga telah mengenali unit dasar suara yang disebut fonem: bayi telah dapat membedakan suara kata-kata kedalam suku kata.
Pada usia 4-6 bulan, bayi mengalami perkembangan pendengaran menjadi lebih sempurna. Namun , bayi juga dapat mengalami kehilangan pendengaran. Salah satu penyebabnya adalah infeksi bakteri yang disebut otitis media. Anak yang mengalami kesulitan pendengaran juga terlihat mengalami penundaan perkembangan bahasa dan prestasi sekolah yang buruk pada tingkat sekolah dasar.
Indra penglihatan pada bayi telah berfungsi sejak lahir, namun memiliki ketajaman yang berbeda dengan orang dewasa. Bayi telah mengalami perubahan pupil mata ketika melihat cahaya. Bayi juga telah memiliki lapangan visual dan matanya memiliki kecendrungan untuk mengikuti benda yang bergerak lambat didepannya. Bayi juga lebih senang untuk mengikuti pola wajah atau yang mirip dengannya daripada pola lainnya.
Bayi juga sudah dapat mengenali warna, walaupun masih mengalami kesulitan membedakan warna hijau dengan biru atau merah dengan kuning. Dan pada usia 2 bulan bayi telah dapat mngenali semua warna dasar. Pada usia 4-5- bulan bayi dpat mengenali warna, meskipun mereka meredup atau lebih terang. Bahkan bayi lebih dapat mengelompokkan warna yang mendekati kedalam kelompok warna dasar (merah, kuning, hijau, biru) dibanding orang dewasa.
Alat indra lain juga telah mulai berkembang pada bayi. Bayi telah memiliki preferensi rasa tertentu. Misalnya, bayi mengisap lebih cepat pada cairan dengan rasa manis daripada pahit, asam, asin atau netral. Bayi juga sudah dapat mengenali berbagai bau-bauan, dan menunjukkkan reaksi menghindar ketika mencium bau cuka, amoniak atau makanan hangus. Bayi dapat membedakan bau ibunya dengan orang lain dengan mengenali bau payudara dan ketiak ibunya. Kulit bayi juga telah menunjukkan sensitivitas terhadap sentuhan, temperatur dan rasa sakit.
Sejalan dengan pengembangan alat-alat sensorik, bayi juga telah mengembangkan kemampuan perseptual sejak lahir. Selama dua bulan pertama, bayi merupakan pencari stimulus. Bayi lebih menyukai melihat stimulus yang sedikit komplek, terget yang memiliki kontras yang tinggi, terutama yang bergerak. Pada usia 2 sampi 6 bulan bayi lebih banyak melakukan eksplorasi terhadap target visual yang lebih sistematis, mulai meningkatkan sensitivitas terhadap gerakan. Dan mulia mempersepsi bentuk visual dan mengenali wajah yang familiar. Pada usia 9 smapi 12 bulan, sistem visual bayi lebih matang bayi dapat membedaan objek dari latar belakangnya.
Selain itu, bayi juga telah memiliki kemampuan untuk melakukan persepsi tiga dimensi terhadap objek, meskipun masih terbatas dibandingkan dengan orang dewasa. Bayi masih memilik ketajaman visual yang buruk dan kurang mampu membawa objek kedalam fokus yang tajam (akomodasi) yang menyulitkan bayi untuk mengambil kesimpulan spasial yang akurat. Bayi yang berumur lebih muda 2-3 bulan juga belum menunjukkan kemampuan stereopsis, kemampuan untuk menyatukan citra visual dari kedua matanya menjadi citra yang memiliki kedalaman.
Bayi masih kurang sensitif terhadap isyarat kedaman. Namun, bayi dapat melihat ketetapan ukuran objek pada letak yang berbeda-beda (size constancy). Pada usia satu bulan, bayi meningkatkan kemampuannya untuk melihat isyarat dari benda yang bergerak (kinetic cues), jika benda mendekat, retina mata semakin membesar dan dapat menutupi lapangan visual (looming) pada usia 4-5 bulan, bayi dapat menggunakan isyarat kinetik untuk mengambil kesimpulan spasial, mereka mengetahui banda yang lebih dekat atau lebih jauh darinya.
Bayi mengembangan sensitivitas terhadap benda binokuler (stereopsis) pada usia 3-5 bulan dan isyarat perspektif (pictorial cues) pada usia 6-7 bulan. Bayi kemudian menunjukkan rasa akut kepada ketinggian (visual cliff) ketika memilki persepsi kedalaman.
Penelitian juga menunjukkan bahwa alat indera bayi telah terintegrasi pada waktu lahir. Bayi yang baru lahir telah dapat menengok kearah suara, meraih benda yang dapat mereka lihat dan berharap untuk melihat sumber suara atau merasakan benda yang mereka raih. Ketika informasi sensorik dapat mendeteksi dua atau lebih alat penginderaan, bayi memprelihatkan kemampuan untuk mengenali satu modalitas sensorik terhadap objek atau pengalaman dengan mengenali modalitas lain. Kemampuan ini berkembang lebih lanjut. Misalnya, pada usia 5 bulan bayi dapat memasang isyarat visual dan pendengaran dengan jarak objek tersebut.
Meskipun usia bayi merupakan periode dasar pembentukan kemampuan dasar persepsi, namun pembelajaran perseptual terus berlangsung ketika akan terus melakukan eksplorasi objek dalam lingkungannya dan mendeteksi gambaran yang berbeda-beda. Kemampuan untuk membedakan perseptual (perceptual discrimination) yang lebih halus ini merupakan dasar kompetensi baru, seperti kemampuan anak untuk membaca. Budaya mempengaruhi kemampuan perseptual. Kemampuan untuk mendeteksi masukan sensorik dapat hilang jika tidak distimulus oleh lingkungan. Misalnya, bayi dapat membedakan lebih banyak fonem daripada orang dewasa.
PROSES DASAR BELAJAR
Belajar merupakan istilah sederhana yang memiliki makna yang kompleks. Belajar merupakan perubahan permanen dalam perilaku yang disebabkan karena pengalaman (pengulangan, praktik, menuntut ilmu, atau observasi) dan bukan karena hereditas, kematangan atau perubahan fisiologis karena cedera. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa bayi telah menunjukkan berbagai kemampuan belajar antara lain pembiasaan, pengondisian, belajar instrumental dan belajar sosial.
Pembiasaan adalah proses dimana kita menghentikan pemberian atau penanggapan stimulus yang diulang terus menerus. Habituasi dapat dikatakan terjadi jika orang merasa tidak ada yang baru lagi dari stimulus yang diberikan. Nabi Muhammad SAW juga terbiasa melakukan pengulangan dalam memberikan perkatannya untuk menjelaskan sesuatu dan menghentikannya sepanjang ia merasa orang lain telah memahaminya, dalam hadist dinyatakan:
“Sesungguhnya Nabi SAW jika menyabdakan suatu kalimat, maka beliau akan mengulangnya sebanyak tiga kali agar ungkapan itu benar-benar bisa dipahami” (HR. Bukhari dan Abu Daud)
Pembiasaan dapat terjadi ketika bayi masih berada dalam kandungan. Bayi beruasia 27-36 minggu akan menjadi sangat aktif jika vibrator ditempatkan pada perut ibu, namun kemudian berhenti jika ia telah merasa terbiasa denngan getaran vibrator tersebut. Pembiasaan meningkat pada bulan pertama setelah kelahirannya. Jika bayi berusia 4 bulan membutuhkan paparan yang panjang sebelum mengalami habituasi, maka bayi 5-12 bulan hanya membutuhkan waktu beberapa detik dan dapat menyimpan pengetahuan ini dalam ingatan selama berhari-hri atau bahkan berminggu-minggu. Pembiasaan yang cepat ini berhubungan dengan kematangan area sensorik pada lapisan otak besar. Namun, terdapat perbedaan individual dalam pembiasaan. Mereka yang lebih cepat memahami informasi, lebih cepat dalam mengelola masukan sensorik yang diulang-ulang dan lebih lambat dalam melupakan apa yang mereka alami. Bayi yang mengalami pembiasaan lebih cepat, memahami bahasa lebih cepat ketika masa kanak-kanak.
Selain pembiasaan, pengkondisian merupakan salah satu cara bayi belajar. Pengondisian adalah pemasangan antara stimulus indrawi (stimulus tidak terkondisi) dengan stimulus netral (stimulus terkondisi) hadis menggambarkan bagaimana rasanya sakit karena sengatan binatang (stimulus indrawi) dipasangkan dengan keinginan untuk memasukkan tangan pada lubang tertentu (stimulus netral). Akibatnya meskipun ada kemungkinan tidak akan adanya sengatan binatang, seseorang dapat takut untuk memasukkan tangan kekedalam lubang yang sama.
“Seseorang mukmin tidak akan disengat (binatang) dari satu lubang (yang sama) sebenyak dua kali (HR. Bukhari, Muslim dan Abu Daud)
Bayi juga telah menunjukkan kemampuan belajarnya dengan cara ini. Lipsitt dan Kaye (1964) memasangkan antara nada netral (stimulus terkondisi) dengan kehadiran puting susu ibu (stimulus tidak terkondisi) yang mengundang respons menghisap pada bayi. Setelah beberapa usaha pengondisian, bayi memberikan respons menghisap ketika nada netral dibunyikan. Namun, pada bayi pengkondisian yang dilakukan masih terbatas pada refleks yang dimilikinya.
SEBELUM EKSPERIMEN
Stimulus Respons
Stimulus terkondisi
dipasang dengan
Stimulus tidak terkondisi Respons tidak terkondisi
SESUDAH EKSPERIMEN
Stimulus Respons
Stimulus terkondisi Respons terkondisi
Pada belajar instrumental untuk membentuk dan mempertahankan perilaku konsekuensi yang didapat setelah perilaku tersebut terbentuk merupakan sesuatu yang penting. Dalam hal ini, dilakukan pemberian penguatan yang berfungsi untuk meningkatkan atau menurunkan perilaku. Untuk meningatkan perilaku, diberika penguatan positif berupa hadiah sesuatu yang menyenangkan atau ditariknya kondisi yang tidak menyenangkan. Nabi Muhammad Saw. Mencontohkan pemberian penguatan positif, baik anak-anak maupun orang dewasa.
“Rasulullah Saw membariskan Abdullah Ubaidillah dan beberapa anak kecil. Kemudian beliu bersabda, “Barang siapa bisa mendahului aku, maka dia akan mendapatkan hadiah ini dan itu.” Maka anak-anak kecil itu mendahului Rasulullah sampai akhirnya mereka minta gendong di atas punggung dan dada Rasulullah Saw. Lantas mereka mencium dan bercengkrama bersama mereka.” (HR. Ahmad)
“Barang siapa telah berbuat kebaikan kepada kalian, maka berikanlah hadiah kepadanya. Jika kalian tidak memeiliki sesuatu yang bisa diberikan ebagai hadiah, maka doakanlah sampai kaian benar-benar merasa telah memberinya hadiah.” (HR. Abu Dawud dan An Nasa’i)
Untuk menurunkan perilaku yang tidak disukai, dapat dilakukan pemberian hukuman, baik dengan memberikan sesuatu yang tidak menyenangkan atau menarik susatu yang menyenangkan. Hadis mencontohkan pemberian hukuman untuk mengurangi perilaku meninggalkan shalat pada anak-anak. Dalam pemberian hukuman penting diperhatikan agar seseoran memahami kenapa ia diberikan hukuman. Pemberian hukuman diberikan setelah anak diberi teguran dulu sebelumnya.
“Perintahkanlah anak-anakmu shalat ketika mereka telah berusia 7 tahun dan pukullah mereka karena meninggalkan shalat ketika mereka telah berusia 12 tahun.” (HR. Ahmad, Abu Dawud dan Al Hakim)
Untuk meningkatkan efektivitas belajar instrumental diperlu diperhatikan kedekatan waktu dalam pemberian konsekuensi, baik ketika memberi hadiah maupun hukuman. Dalam hadis dinyatakan:
“Berikanlah bayaran pelayan sebelum keringatnya mengering.” (HR. Ibnu Majah dan Umar)
Pemberian hadiah atau hukuman telah dapat dirasakan oleh bagi yang lahir prematur. Namun efektivitas belajar instrumental juga dipengaruhi oleh kemampuan otak. Mereka yang merupakan pengolah informasi yang lebih cepat dapat belajar lebih cepat pula.
Kontingensi Respons
Menyenangkan Menyakitkan
(Appetitive) (Aversive)
Memberikan Konsekuensi yang Penguatan Positif Hukuman Mengikuti Respons (Positive Reinforcement) (Punishment)
Menarik Konsekuensi yang Penghilangan Penguatan Penguatan Negatif
Mengikuti Respons (Ommission Of Reinforcement) (Negatif Reinforcement
Selain itu, psikologi juga mempelajari proses belajar dengan menggunakan imitasi atau permodelan. Belajar melalui model atau yang di kenal dengan teori belajar sosial (sosial learning) merupakan prinsip dasar belajar yang cukup luas dipelajari. Seseorang dapat meniru model, baik yang ada dalam lingkungan sehar-hari ataupun yang lain dengan menggunakan erbagai alat media. Dalam ajaran Islam, Allah telah memberikan contoh tealdan pada rasul-rasul yang diutusnya yang dapat ditiru oleh umat manusia.
PERKEMBANGAN KOGNITIF
TAHAP PERKEMBANGAN KOGNITIF
Perkembangan kognitif secara spesifik difokuskan pada perubahan dalam cara berpikir, memecahkan masalah, memori, dan intelegensi. Perkembangan kognitif merupakan kegiatan berpikir atau intelektual. Seperti juga kemampuan fisik, banyak ulama islam membagi perkembangan kognitif berdasarkan empat periode, yang dituturnkan dari ayat berikut ini:
“Allah, Dialah yang menciptakan kamu dari keadaan lemah, kemudian Dia menjadikan (kamu) sesudah keadaan lemah itu menjadi kuat, kemudian Dia menjadikan (kamu) sesudah kuat itu lemah (kembali) dan beruban. Dia menciptakan apa yang dikehendaki-Nya dan Dialah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Kuasa” (QS. Ar-Ruum[30]: 54).
Dengan demikian, dalam pembahasan selanjutnya akan dikaji perkembangan kognitif berdasarkan perkembangan, periode pencapaian kematangan, periode tengah baya dan periode lanjut usia.
Periode Perkembangan
Periode ini adalah tahap dimana kemampuan berfikir manusia mengalami peningkatan yang cukup signifikan, terutama pada awal masa kelahirannya. Pada tahap ini kemampuan berpikir manusia berkembang sampai mencapai kematangannya yang sejalan dengan pertumbuhan otak manusia secara fisiologis. Periode ini adalah periode untuk mengembangkan kemampuan struktur kognitif atau skema. Skema merupakan pola-pola pikiran atau tindakan yang bisa dikenal sebagai strategi atau konsep.
Dalam perkembangan kognitif, berpikir kritis merupakan hal yang penting. Ketika anak tertarik pada subjek tertentu, keterampilan berpikir mereka lebih menjadi kompleks.
Skema terbentuk melalui organisasi dan adaptasi. Adaptasi terdiri dari dua proses yang penting yaitu asimilasi dan akomodasi. Asimilasi merupakan proses dimana informasi baru diperoleh dari situasi baru dan menyatu dengan pengetahuan sebelumnya, sedangkan akomodasi terjadi ketika informasi baru mengalami perubahan karena pengetahuan sebelumnya.
Gambaran proses asimilasi dan akomodasi ini mirip dengan awal penciptaan manusia, ketika alaqah (zygot) menggantung dalam dinding uterus. Zygot sendiri tercipta karena sel sperma menyatu dengan sel telur (asimilasi), kemudian sel sperma mengalami perubahan karena penyatuan sel telur (akomodasi). Keseimbangan terjadi pada penyatuan tersebut dengan terbentuknya zygot. Zygot yang semula satu sel kemudian berkembang terus menerus menjadi berjuta-juta sel yang membentuk berbagai jaringan tubuh manusia.
Perkembangan kognitif pada anak-anak terjadi melalui urutan yang berbeda. Tahapan ini membantu menerangkan cara anak berpikir, menyimpan informasi dan beradaptasi dengan lingkungannya. Menurut Jean Piaget terdapat 4 tahapan perkembangan kogitif, yaitu:
Periode sensorik motorik (sejak kelahiran hingga usia 2 tahun)
Pada tahap ini, bayi menggunakan alat indra dan kemampuan motorik untuk memahami dunia sekitarnya. Bayi mengalamai perkembangan dari gerak reflek sederhana menuju beberapa langkah skematik yang lebih terorganisasi.
Periode praoperasional (sekitar 2-7 tahun)
Anak dapat membuat penyesuaian perseptual dan motorik terhadap objek dan kejadian yang direpresentasikan dalam bentuk simbol (bayangan mental, kata-kata, isyarat) dalam meningkatkan bentuk organisasi dan logika.
Periode konkret operasional (sekitar7-11tahun)
Anak mendapat struktur logika tertentu yang membuatnya dapat melaksanakan berbagai macam ooperasi mental, yang merupakan tindakan terinternalisasi yang dapat dikeluarkan bila perlu. Anak melaksanakan operasi ini dalam situasi konkret.
Periode formal operasional (sekitar 11-15)
Operasi mental tidak lagi hanya terbatas pada objek konkreet, tetapi juga sudah dapat diaplikasikan pada kalimat verbal atau logika, yang tidak hanya menjangkau kenyataan melainkan juga kemungkinan, tidak hanya menjangkau masa kini tetapi juga masa depan.
Periode Pencapaian Kematangan
Penalaran orang dwasa semakin berkembang, karena mereka lebih berpengalaman dan banyak belajar. Mereka dapat berpikir tentang sesuatu melalui proses berpikir logis dan abstraksi yang lebih kaya. Dengan meningkatnya usia, seseorang menjadi lebih memahami berbagai konsep abstrak, seperti keadilan, kebenaran dan hak asasi. Mereka juga telah dapat menimba pengalaman dari berbagai konflik yang terjadi sebelumnya karena terjadinya individuasi selama masa transisi dari anak-anak menuju masa dewasa.
Periode Tengah Baya
Pada usia 40 tahun, manusia memasuki usia dengan kematangan pemikiran yang lebih baik. Pengalaman yang mereka lalui semakin banyak, sehingga dengan banyaknya belajar mereka lebih memiliki kebijaksanaan. Mereka umumnya telah memiliki keturunan dan melaksanakan kewajiban untuk memelihara dan mendidik anak-anaknya. Mereka mulai memahami konflik pada awal masa remaja mereka dengan melihat perkembangan generasi sesudah mereka.
Mereka juga mulai menyadari bahwa usia telah melewati usia pertengahan rentang kehidupan, sehingga mereka lebih banyak melakukan evaluasi terhadap diri mereka, mengingat jasa orang tua mereka dan melihat bagaimana masa depan keturunan mereka.
Periode Lanjut Usia
Pada periode lanjut usia, terjadi barbagai penurunan kemampuan berpikir. Mereka juga lebih banyak mengingat masa lalu dan sering kali melupakan apa yang baru diperbuatnya. Kemampuan untuk memusatkan perhatian, berkonsentrasi dan berpikir logis menurun, bahkan sering kali terjadi loncatan gagasan. Al-qur’an menggambarkan periode ini sebgai periode di mana manusia dipanjangkan umurnya pada umur yang paling lemah, dan pada masa ini mereka juga merasa usianya telah semakin mendekati akhir kehidupan, sehingga mereka lebih banyak mengingat kematian daripada sebelumnya.
PERSPEKTIF SOSIOKULTURAL DALAM PERKEMBANGAN KOGNITIF
Perkembangan kognitif manusia juga ditentukan dari lingkungan di mana ia tinggal. Pentingnya lingkungan dalam perkembangan kognitif terlihat dari banyaknya ayat-ayat Al-qur’an yang menyuruh manusia untuk belajar dari alam semesta, misalnya dalam Q.S Al-Baqarah: 164 dan Q.S Al-Rum: 8.
“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, silih bergantinya malam dan siang, bahtera yang berlayar di laut membawa apa yang berguna bagi manusia, dan apa yang Allah turunkan dari langit berupa air, lalu dengan air itu Dia hidupkan bumi sesudah mati (kering)-nya dan Dia sebarkan di bumi itu segala jenis hewan, dan pengisaran angin dan awan yang dikendalikan antara langit dan bumi; sungguh (terdapat) tanda-tanda (keesaan dan kebesaran Allah) bagi kaum yang memikirkan” (QS. Al-Baqarah: 164 ).
“Dan mengapa mereka tidak memikirkan tentang (kejadian) diri mereka? Allah tidak menjadikan langit dan bumi dan apa yang ada diantara keduanya melainkan dengan (tujuan) yang benar dan waktu yang ditentukan. Dan sesungguhnya kebanyakan di antara manusia benar-benar ingkar akan pertemuan dengan Tuhannya” (Q.S Al-Rum: 8).
Penelitian tentang pengaruh fakor sosiokultural terhadap perkembangan manusia banyak dilakukan, terutama oleh Lev Vygotsky. Ia mengatakan bahwa bayi lahir denngan sedikit fungsi mental dasar (perhatian, pengindraan, presepsi dan ingatan) yang di transformasikan oleh budaya menjadi proses mental yang lebih baru atau canggih yang disebut fungsi mental yang lebih tinggi. Misalnya, kemampuan ingatan anak pada awalnya terbatas oleh kendala biologis yang hanya pada citra dan impresi yang dapat diproduksinya.
Namun, setiap budaya memberikan alat bagi anak untuk melakukan adaptasi intelektual yang memungkinkan mereka menggunakan fungsi mental dasar mereka lebih adaptif. Anak dalam budaya tertentu, misalnya, diajarkan untuk membuat catatan terhadap hal-hal yang harus diingat. Melalui kepercayaan, nilai-nilai dan alat-alat lainnya, budaya memberikan kontribusi pada perkembangan kognititf manusia.
Komentar
Posting Komentar