Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesi
Pergerakan
Bukan Sekedar Melakukan, Melainkan Perjuangan
Sama halnya ketika Indonesia merdeka dengan perjuangan, begitu pula ketika melangkah dalam pergerakan, yang juga membutuhkan banyak perjuangan. Baik itu didalamnya penuh tenaga, penuh suka ataupun duka, yang dibalut dalam kata perjuangan. Apa yang bisa di maknai dari kata perjuangan? Seberapa jauh dan seberapa dalam bisa memakai kata perjuangan? Jalan menuju pergerakan adalah perjuangan. Bagaimana setiap orang memaknainya adalah perial masing-masing orang tersebut, bagaimana setiap orang melaluinya adalah bergantung masing-masing orang tersebut. Tidak ada yang mudah dalam perjuangan, meski begitu perlu dinikmati dan dilalui dengan baik, dan indah pada akhirnya. Seperti kepompong yang berjuang menjadi kupu-kupu, melalui proses yang tak mudah namun berhasilkan indah, begitulah kader pergerakan yang perlu berproses dan berjuang supaya hasilnya pun indah.
Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia, kata-kata yang tersusun dalam kalimat ini memiliki makna yang mendalam. Pergerakan itu bukan sekedar melakukan, melainkan perjuangan. Bukan sekedar tangan terkepal dan maju kemuka, melainkan juga aksi membela. Bukan sekedar pembela bangsa, melainkan juga penegak agama. Apa makna dibalik ini? Karena dalam pergerakan, dibutuhkan banyak perjuangan. Seseorang bisa saja melakukan sesuatu tapi tidak berjuang, namun seseorang sudah pasti berjuang untuk melakukan sesuatu. Tidak ada pejuangan tanpa semangat. Jika tidak ada semangat, maka tidak ada perjuangan. Yang menjadi kendala dalam berproses adalah kurangnya semangat.
Kurangnya semangat dan antusias menjadi salah satu faktor utama pengambat suatu proses itu sendiri. Menyedihkan sekali rasanya bila suatu organisasi pergerakan tidak berkembang hanya karna tidak adanya semangat dari para anggota kadernya. Siapakah yang harus memperbaiki ini? Apakah tingkat pengurus rayon atau sampai kepada tingkat pengurus cabang PMII? Atau apakah dari pribadi kader masing-masing? Kemudian apa yang bisa diharapkan dari itu? Masalahnya apakah itu karena kurangnya kesadaran ber-organisasi ataupun tidak menjiwai dari organisasi pergerakan itu sendiri.
Organisasi kami adalah Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia, yang kemudian kami menyebutkan PMII. PMII bukan sekedar apa yang kita lakukan didalamnya melainkan juga bagimana kita bisa menjiwai PMII itu dalam hati. Jika kita sudah menjiwai pergerakan itu dalam hati, tidak ada namanya tidak semangat, tidak ada namanya tidak berjuang. Kepribadian dan kelakuan adalah refleksi dari PMII, selaras dan serasi dengan Trilogi PMII, poin-poin NDP yang bernilai tinggi akan dapat di aplikasikan dalam kehidupan sehari-hari. Itulah hasil manis dari proses panjang yang penuh perjuangan.
Manisnya hasil itu diraih setelah proses yang mungkin melelahkan, menguras tenaga, menguras air mata, bahkan merenggut tawa. Tetap saja, apa yang dilalui dan bagaimana melaluinya, tawa harus tetap ada karena tawa atau air mata sekalipun adalah “romantisme pergerakan”. Bukankah indah? Para kader menyebutnya romantisme pergerakan, dimana didalamnya penuh dengan momen kebersamaan para kader dalam berproses bersama, menjalani bagian dari kehidupan ini bersama.
Hentikan ratapan dan tangisan, “habislah sudah masa yang suram, selesai sudah derita yang lalu, bangsa yang jaya islam yang benar, bangun tersentak dari bumiku subur”, menjadi penutup dari tulisan ini. Begitulah sepenggal lirik dari Mars PMII yang menjadi motivasi dan penggerak semangat serta harapan para kader. Lagu yang menggambarkan semangat juang PMII. Apa yang telah dilalui dengan air mata maka hentikan, derita akan hilang berganti bahagia. Menepis segala hambatan dan menyongsong harapan. Menyingkirkan keluhan dan membangkitkan semangat juang.
Salam pergerakan !!!
Komentar
Posting Komentar